Today:13 July, 2020

Penyakit Kuning (Jaundice): Gejala, Penyebab, Pengobatan, dll

Penyakit kuning atau jaundice adalah kondisi yang menandakan penyakit serius yang harus segera mendapatkan perawatan medis. Baca terus untuk mendapatkan informasi lengkap tentang definisi jaundice, gejala, penyebab, pengobatan, dan pencegahan!

penyakit-kuning-doktersehat

Apa Itu Penyakit Kuning?

Penyakit kuning adalah penyakit yang ditandai dengan kulit dan bagian putih mata tampak kuning, bahkan cairan tubuh juga bisa berwarna kuning. Gejala ini bisa menjadi tanda penyakit yang serius, termasuk penyakit hati dan saluran empedu.

Warna kuning pada kulit dan putih mata akan berbeda-beda tergantung pada kadar bilirubin. Bilirubin adalah bahan limbah yang terdapat dalam darah. Kadar sedang biasanya menyebabkan warna kuning, sedangkan kadarnya yang sangat tinggi akan tampak cokelat.

Ciri dan Gejala Penyakit Kuning

Gejala yang pertama muncul biasanya terjadi pada bagian putih mata yang berubah menjadi kuning. Jika tubuh memiliki kadar bilirubin sedang maka kemungkinan salah satu bagian tubuh akan terlihat kuning. Sedangkan kadar bilirubin yang lebih tinggi akan menyebabkan kulit juga menjadi kuning.

Selain putih mata dan kulit yang tampak menguning, gejala lain yang terkait dengan penyakit kuning akan tergantung pada penyebabnya.

Berikut ini gejala penyakit kulit yang umum terjadi:

  • Urine keruh atau berwarna gelap
  • Feses tampak pucat
  • Rasa gatal
  • Kelelahan yang berlebihan
  • Demam
  • Sakit perut
  • Penurunan berat badan
  • Muntah

Sementara gejala kuning di putih mata dan kulit pada bayi biasanya muncul di hari kedua atau keempat setelah lahir. Guna memastikan penyakit kuning pada bayi, tekan dahi atau hidungnya secara lembut. Jika kulit terlihat kuning di tempat yang ditekan, kemungkinan bayi mengalami sakit kuning ringan. Sedangkan jika bayi tidak memilikinya, warna kulit terlihat sedikit lebih terang dari warna normal.

Gejala penyakit kuning lainnya pada bayi termasuk:

  • Tidak nafsu makan
  • Lesu
  • Perubahan bentuk otot
  • Rewel
  • Kejang

Kapan Waktu yang Tepat Harus ke Dokter?

Selain putih mata dan kulit terlihat kuning, segera dapatkan perawatan dokter jika gejala penyakit kulit disertai kulit gatal, warna feses tampak gelap atau lebih pucat dari biasanya.

Sedangkan jika kondisi berikut terjadi pada bayi baru lahir, segera hubungi dokter:

  • Sakit kuning menyebar atau menjadi lebih intens.
  • Bayi mengalami demam lebih dari 38°C.
  • Warna kuning pada bayi semakin pekat.
  • Bayi tidak mau menyusu, tampak lesu, dan rewel.

Jenis dan Penyebab Penyakit Kuning

Penyakit kuning dapat disebabkan oleh beberapa jenis. Oleh karena itu, sangat membantu untuk memahami berbagai penyebabnya dengan mengidentifikasi masalah yang mengganggu metabolisme bilirubin normal dan atau ekskresi.

Berikut ini beberapa kondisi yang menjadi penyebab penyakit kuning:

1. Pre-Hepatic (Sebelum Empedu Dibuat di Hati)

Penyakit ini disebabkan oleh peningkatan kerusakan pada sel-sel darah merah (hemolisis) secara cepat, yang melebihi kemampuan hati untuk menghilangkan peningkatan kadar bilirubin dari darah.

Sejumlah kondisi dengan peningkatan kerusakan sel darah merah meliputi:

  • Malaria
  • Anemia sel sabit
  • Spherocytosis
  • Talasemia
  • Defisiensi glucose-6-phosphate dehydrogenase (G6PD)
  • Obat atau racun lain
  • Gangguan autoimun

2. Hepatic (Penyakit Kuning yang Muncul di Hati)

Dalam kasus ini sakit kuning disebabkan oleh ketidakmampuan hati memetabolisme dan mengeluarkan bilirubin dengan baik. Berikut beberapa kondisi yang menjadi penyebab penyakit kuning:

  • Hepatitis (biasanya terkait virus atau alkohol)
  • Sirosis
  • Obat-obatan atau racun lain
  • Sindrom Crigler-Najjar
  • Sindrom Gilbert
  • Kanker

3. Post-Hepatic (Setelah Empedu Dibuat di Hati)

Jenis sakit kuning ini juga disebut penyakit kuning obstruktif, disebabkan oleh kondisi yang mengganggu aliran normal bilirubin terkonjugasi dalam bentuk empedu dari hati ke usus.

Penyebab penyakit kuning obstruktif meliputi:

  • Batu empedu di saluran empedu
  • Kanker (karsinoma saluran pankreas dan empedu)
  • Penyempitan saluran empedu
  • Kolangitis
  • Kelainan bawaan
  • Pankreatitis
  • Parasit
  • Kehamilan
  • Sakit kuning pada bayi baru lahir

4. Penyebab Penyakit Kuning pada Bayi Baru Lahir

Sakit kuning pada bayi baru lahir tidak berbahaya dan biasanya dapat disebabkan oleh beberapa kondisi yang berbeda, meskipun seringkali merupakan akibat fisiologis normal dari hati yang belum matang pada bayi baru lahir.

Beberapa hal yang menyebabkan penyakit kuning pada bayi baru lahir termasuk:

  • Ketidakcocokan golongan darah ibu dan janin
  • Gangguan menyusui
  • Cephalohematoma (kumpulan darah di bawah kulit kepala)
  • Bayi lair prematur

Faktor Risiko Penyakit Kuning

Penyakit kuning sering kali diakibatkan kelainan mendasar yang menyebabkan produksi bilirubin terlalu banyak atau menghambat hati membuangnya. Kedua hal ini menyebabkan bilirubin mengendap dalam jaringan.

Sejumlah kondisi atau faktor yang mendasari dapat meningkatkan risiko sakit kuning, di antaranya:

  • Peradangan akut pada hati. Hal ini dapat mengganggu kemampuan hati mengkonjugasi dan mengeluarkan bilirubin, sehingga terjadi penumpukan.
  • Peradangan pada saluran empedu. Kondisi ini dapat mencegah sekresi empedu dan pengeluaran bilirubin, yang menyebabkan penyakit kuning.
  • Obstruksi saluran empedu. Kondisi ini dapat mencegah hati membuang bilirubin.
  • Anemia hemolitik. Produksi bilirubin mengalami peningkatan ketika sebagian besar sel darah merah dipecah.
  • Sindrom Gilbert. Penyakit ini adalah kondisi bawaan yang mengganggu kemampuan enzim untuk memproses ekskresi empedu.
  • Cholestasis. Kondisi yang mengganggu aliran empedu dari hati. Empedu yang mengandung bilirubin terkonjugasi tetap di hati bukannya diekskresikan.
  • Sindrom Crigler-Najjar. Kondisi merusak enzim spesifik yang bertanggung jawab memproses bilirubin.
  • Sindrom Dubin-Johnson. Merupakan bentuk sakit kuning kronis yang diwariskan untuk mencegah bilirubin terkonjugasi agar tidak dikeluarkan dari sel-sel hati.
  • Pseudo jaundice. Ini adalah bentuk sakit kuning yang tidak berbahaya. Kulit yang menguning disebabkan kelebihan beta-karoten, bukan dari kelebihan bilirubin. Pseudo jaundice biasanya muncul ketika terlalu banyak makan makan wortel, labu, atau melon.

Diagnosis Penyakit Kuning

Awalnya dokter akan  menanyakan riwayat penyakit yang sedang atau pernah dialami pasien secara rinci. Dokter juga akan melakukan pemeriksaan untuk melihat apakah ada temuan yang mengindikasikan penyebab penyakit kuning.

Selain itu, tes tambahan biasanya diperlukan untuk untuk memastikan dan menentukan penyebab sakit kuning yang mendasarinya.

Berikut ini beberapa tes untuk mendiagnosis penyakit kuning:

  • Tes darah. Tes ini awalnya untuk menghitung darah lengkap, tes fungsi hati (termasuk tingkat bilirubin), tingkat lipase/amilase untuk mendeteksi peradangan pankreas (pankreatitis), dan panel elektrolit.
  • Urinalisis. Tes urine ini adalah analisis urine dan merupakan tes yang sangat berguna dalam diagnosis skrining bagi kebanyakan penyakit.
  • Pencitraan. Tes yang dilakukan untuk menghasilkan gambar digital bagian dalam tubuh. beberapa tes pencitraan, termasuk ultrasonografi (USG), computerized tomography (CT) scan, cholescintigraphy (pemindaian HIDA), magnetic resonance imaging (MRI), dan endoscopic retrograde cholangiopancreatography (ERCP).
  • Biopsi hati. Tes ini dilakukan dengan memasukkan jarum ke dalam hati setelah anestesi lokal diberikan. Sering kali USG akan digunakan untuk memandu penempatan jarum. Sampel jaringan hati yang diperoleh kemudian diperiksa di laboratorium.

Pengobatan Penyakit Kuning

Perawatan penyakit ini berdasarkan pada penyebab yang mendasarinya dan meringankan gejalanya. Penyebab biasanya terdiri dari tiga jenis.

Berikut beberapa cara mengobati penyakit kuning berdasarkan penyebabnya:

1. Pre-Hepatic

Mengobati penyakit kuning pre-hepatic tujuannya adalah untuk memperlambat kerusakan sel darah merah yang menyebabkan bilirubin menumpuk di dalam darah. Dalam kasus infeksi, seperti malaria, penggunaan obat untuk infeksi yang mendasarinya sering kali dianjurkan.

Sedangkan untuk kelainan darah genetik, seperti anemia sel sabit atau talasemia, transfusi darah kemungkinan diperlukan untuk mengganti sel darah merah.

Semenatar sindrom Gilbert biasanya tidak memerlukan perawatan karena sakit kuning yang terkait dengan kondisi ini tidak terlalu serius.

2. Intra-Hepatic

Ketika mengatasi penyakit kuning intra-hepatic, tidak banyak yang dapat dilakukan untuk memperbaiki kerusakan hati, meskipun seiring waktu hati dapat memperbaiki dirinya sendiri. Oleh karena itu, tujuan perawatannya untuk mencegah kerusakan hati lebih lanjut.

Sedangkan kerusakan hati yang disebabkan oleh infeksi, seperti hepatitis virus atau demam kelenjar, obat antivirus bisa diberikan untuk membantu mencegah kerusakan lebih lanjut.

Jika kerusakan yang disebabkan oleh paparan zat berbahaya, seperti alkohol atau bahan kimia, dianjurkan untuk menghindari zat tersebut. Sementara pada kasus penyakit hati yang parah, pilihan pengobatanya adalah transplantasi hati.

3. Post-Hepatic

Bagi sebagian besar kasus penyakit kuning post-hepatic, prosedur operasi dianjurkan untuk membuka penyumbatan sistem saluran empedu.

Bagian yang mungkin perlu dihilangkan selama operasi, di antaranya:

  • Kantong empedu
  • Bagian dari sistem saluran empedu
  • Bagian pankreas untuk mencegah penyumbatan lebih lanjut terjadi

4. Pengobatan Penyakit Kuning pada Bayi Baru Lahir

Penyakit kuning pada bayi baru lahir biasanya ringan dan akan menghilang dengan sendirinya dalam waktu dua atau tiga minggu. Sedangkan sakit kuning yang tergolong sedang atau berat memerlukan perawatan.

Perawatan untuk menurunkan kadar bilirubin dalam darah bayi, di antaranya:

  • Perbanyak asupan nutrisi. Guna mencegah penurunan berat badan, dokter dapat menganjurkan pemberian makan atau suplementasi yang lebih sering untuk memastikan bayi menerima nutrisi yang cukup.
  • Terapi cahaya (fototerapi). Bayi mungkin baringkan di bawah lampu khusus yang memancarkan cahaya dalam spektrum biru-hijau. Cahaya ini mengubah bentuk dan struktur molekul bilirubin sedemikian rupa sehingga dapat diekskresikan dalam urine dan feses.
  • Intravenous immunoglobulin (IVIg). Penyakit kuning mungkin terkait dengan perbedaan golongan darah antara ibu dan bayi. Kondisi ini menghasilkan bayi yang membawa antibodi dari ibu yang memicu laju kerusakan sel darah merah bayi. Meskipun hasilnya tidak konklusif, transfusi imunoglobulin intravena (protein darah untuk mengurangi kadar antibodi) dapat meredakan gejala dan mengurangi perlunya transfusi tukar.
  • Pertukaran transfusi. Meskipun jarang, kondisi yang parah tidak merespons perawatan lain, bayi kemungkinan memerlukan transfusi darah. Perawatan ini dengan mengambil sedikit darah secara berulang dan menggantinya dengan darah donor, sehingga mengurangi kadar bilirubin dan antibodi ibu.

Baca Juga: Bayi Kuning: Penyebab, Gejala, Pengobatan, dll

Komplikasi Penyakit Kuning

Gatal yang menyertai penyakit kuning terkadang sangat kuat sehingga pasien tak kuasa menahan untuk menggaruknya, menyebabkan insomnia, atau, dalam kasus yang ekstrem memiliki pikiran untuk bunuh diri.

Jika mengalami komplikasi, biasanya disebabkan karena masalah yang mendasarinya, bukan sakit kuning itu sendiri. Misalnya, saluran empedu yang tersumbat mengarah ke penyakit ini dapat terjadi perdarahan yang tidak terkontrol. Kondisi ini karena penyumbatan menyebabkan kekurangan vitamin yang dibutuhkan untuk pembekuan darah.

Pencegahan Penyakit Kuning

Tidak ada cara yang mungkin dapat mencegah semua kasus penyakit kuning karena dapat disebabkan oleh berbagai kondisi. Namun, dengan melakukan tindakan pencegahan tertentu dapat mengurangi risiko terkena penyakit ini.

Berikut ini beberapa cara mengurangi risiko sakit kuning:

  • Mengurangi atau menghindari alkohol.
  • Mempertahankan berat badan yang sehat.
  • mendapatkan vaksin hepatitis A dan hepatitis B.
  • Menghindari perilaku berisiko tinggi seperti penggunaan obat intravena atau hubungan seksual tanpa kondom.
  • Menghindari makanan atau minuman yang berpotensi terkontaminasi dan higienis.
  • Menghindari obat-obatan dan racun yang dapat menyebabkan hemolisis atau kerusakan hati.

 

  1. Anonim. 2018. Jaundice. https://www.nhs.uk/conditions/jaundice/. (Diakses pada 11 Juni 2020)
  2. Anonim. 2018. Jaundice: Symptoms, Causes, Diagnosis, Management and Prevention. https://www.aimu.us/2018/01/24/jaundice-symptoms-causes-diagnosis-management-and-prevention/. (Diakses pada 11 Juni 2020)
  3. Doerr, Steven. 2019. 18 Jaundice Symptoms, Signs, Causes, Treatment, and Prognosis. https://www.emedicinehealth.com/jaundice/article_em.htm#what_tests_diagnose_jaundice. (Diakses pada 11 Juni 2020)
  4. Gillott, Caroline. 2017. Everything you need to know about jaundice. https://www.medicalnewstoday.com/articles/165749. (Diakses pada 11 Juni 2020)
  5. Mayo Clinic Staff. 2020. Infant jaundice. https://www.mayoclinic.org/diseases-conditions/infant-jaundice/diagnosis-treatment/drc-20373870. (Diakses pada 11 Juni 2020)
  6. Moores, Danielle. 2017. Understanding Newborn Jaundice. https://www.healthline.com/health/newborn-jaundice. (Diakses pada 11 Juni 2020)

Rumren Official | © 2020 PT Media Kesehatan Indonesia. Hak Cipta Dilindungi

Share