Today:31 May, 2020

4 Masalah Gizi pada Bayi yang Bisa Terjadi Beserta Penanganannya

Sejak awal kelahiran, memerhatikan segala asupan nutrisi harian bayi merupakan salah satu hal penting untuk mencukupi kebutuhan gizinya. Sayangnya, asupan gizi harian bayi kadang bisa tidak sesuai dengan kebutuhannya sehingga menimbulkan masalah pada tumbuh kembang si kecil. Apa saja gangguan atau masalah gizi yang berisiko dialami oleh bayi?

Berbagai masalah gizi pada bayi

Status gizi bayi sejatinya sudah mulai terbentuk sejak ia berada di dalam kandungan hingga usianya genap dua tahun. Rentang waktu tersebut juga dikenal dengan nama 1000 hari pertama kehidupan dan periode emas.

Selama 1000 hari pertama atau periode emas tersebut, diharapkan bayi memperoleh asupan zat gizi harian yang sepadan dengan kebutuhannya.

Alasannya karena selama 1000 hari pertama, pertumbuhan tubuh dan otak si kecil sedang berkembang dengan sangat pesat.

Asupan gizi yang cukup selama di dalam kandungan sampai usia bayi menginjak dua tahun akan membuatnya lahir dan tumbuh dengan baik.

Sebaliknya, jika asupan gizi bayi tidak terpenuhi secara optimal, kondisi ini bisa mengakibatkan tumbuh kembangnya mengalami hambatan.

Bahkan, terhambatnya tumbuh kembang si kecil tersebut bisa saja sulit diperbaiki hingga akhirnya berpengaruh pada masa dewasanya kelak.

Tak menutup kemungkinan, bayi bisa mengalami masalah gizi akibat dari asupan nutrisi harian yang kurang memadai. Agar lebih paham, berikut beberapa masalah gizi pada bayi yang mungkin terjadi:

1. Masalah gizi berat badan lahir rendah pada bayi

Berat badan lahir rendah (BBLR) adalah salah satu masalah gizi pada bayi. Sesuai namanya, kondisi berat badan lahir rendah ini terjadi ketika bayi yang baru lahir memiliki berat badan di bawah rentang normal.

Idealnya, bayi baru lahir tergolong memiliki berat badan normal jika hasil pengukuran ada di rentang 2,5 kilogram (kg) atau 2.500 gram (gr) sampai dengan 3,5 kg atau 3.500 gr.

Jadi, apabila berat badan bayi baru lahir yang berada di bawah 2.500 gram, menandakan bahwa ia mengalami masalah gizi berupa BBLR.

Namun, Anda perlu ingat bahwa rentang berat badan normal tersebut berlaku untuk bayi baru lahir di usia kehamilan 37-42 minggu.

Tindakan penanganannya

Cara perawatan untuk masalah pada bayi dengan berat badan lahir rendah biasanya disesuaikan kembali dengan gejala, usia, dan kesehatan tubuhnya secara umum.

Dokter nantinya juga akan menilai seberapa parah kondisi si kecil untuk menentukan tindakan penanganan yang tepat.

Mengutip dari University of Rochester Medical Center, perawatan untuk masalah pada bayi dengan berat badan lahir rendah, yakni:

  • Bayi mendapat perawatan khusus di neonatal intensive care unit (NICU)
  • Pemantauan pada suhu ruangan tidur bayi
  • Bayi diberikan makanan khusus, entah melalui selang yang mengalir langsung ke perut atau selang infus yang masuk ke pembuluh darah

Selain itu, badan kesehatan dunia WHO menyarankan pemberian ASI pada bayi yang mengalami BBLR sejak baru lahir. Bahkan, akan lebih baik lagi jika pemberian ASI diteruskan selama enam bulan penuh alias ASI eksklusif.

2. Masalah gizi kurang pada bayi

Gizi kurang termasuk satu dari beberapa masalah gizi pada bayi yang disebabkan oleh ketidakseimbangan antara asupan energi dan kebutuhan gizi harian.

Dengan kata lain, asupan harian bayi dengan gizi kurang cenderung lebih sedikit dan tidak mampu mencukupi kebutuhan tubuhnya.

Berdasarkan Permenkes No. 2 Tahun 2020 tentang Standar Antropometri Anak, bayi termasuk dalam kelompok gizi kurang saat pengukuran berat badan menurut tinggi badannya berada di bawah normal.

Begini, pengukuran berat badan dan tinggi badan bayi memiliki satuan bernama standar deviasi (SD). Normalnya, bayi dikatakan memiliki gizi baik saat berat badan berdasarkan tinggi badannya berada di rentang -2 SD sampai dengan 2 SD.

Sementara jika si kecil mengalami gizi kurang, pengukurannya berada di rentang -3 SD  sampai kurang dari -2 SD.

WHO menjelaskan lebih lanjut bahwa masalah kurang gizi pada bayi dapat mencakup stunting, wasting, berat badan rendah, hingga kekurangan vitamin dan mineral.

Masalah gizi kurang pada bayi bukan terjadi secara tiba-tiba, melainkan telah terbentuk akibat kekurangan gizi dalam waktu yang cukup lama.

Bayi yang mengalami gizi kurang bisa saja telah mengalami ketidakcukupan nutrisi sejak dalam kandungan maupun sejak dilahirkan.

Tindakan penanganannya

Bayi yang mengalami gizi kurang sangat dianjurkan untuk mendapatkan ASI eksklusif selama enam bulan penuh. Namun, penanganan tersebut hanya berlaku untuk bayi yang masih berusia di bawah enam bulan.

Sementara untuk bayi di atas enam bulan dengan kondisi gizi kurang bisa diatasi dengan cara pemberian makanan pendamping ASI (MPASI) yang lengkap.

Lengkap di sini berarti dapat memenuhi semua kebutuhan nutrisi si kecil. Selain itu, Anda dianjurkan untuk tidak melewatkan makanan selingan atau camilan di sela-sela waktu makan utama bayi.

Jika perlu, bayi bisa diberikan MPASI yang telah difortifikasi atau ditambahkan aneka zat gizi guna melengkapi kebutuhan hariannya.

3. Masalah gizi buruk pada bayi

Masalah gizi lainnya pada bayi yakni gizi buruk. Gizi buruk adalah keadaan saat berat badan berdasarkan tinggi badan bayi berada jauh dari rentang yang seharusnya.

Permenkes No. 2 Tahun 2020 tentang Standar Antropometri Anak menjabarkan bahwa pengukuran bayi dengan kategori gizi buruk yakni kurang dari -3 SD.

Sama halnya seperti gizi kurang yang mencakup beberapa masalah, gizi buruk pun demikian. Masalah gizi buruk pada bayi dapat dibagi menjadi kwashiorkor, marasmus, dan marasmus-kwashiorkor.

Marasmus adalah kondisi gizi buruk karena asupan energi tidak tercukupi. Kwashiorkor adalah masalah gizi buruk yang disebabkan oleh kurangnya asupan protein pada bayi.

Sementara marasmus-kwashiorkor merupakan gabungan dari keduanya yakni masalah karena asupan protein dan energi kurang dari yang seharusnya.

Tindakan penanganannya

Pengobatan masalah gizi buruk pada bayi nantinya akan disesuaikan kembali dengan kondisinya, misalnya mengalami marasmus, kwashiorkor, atau marasmus kwashiorkor.

Jika bayi mengalami marasmus, penanganannya bisa dilakukan dengan memberikan susu formula F 75. Susu formula F 75 diolah dari gula, minyak sayur, serta protein susu bernama kasein yang dicampur menjadi satu.

Selain itu, asupan makanan harian bayi juga akan diatur agar mengandung zat gizi yang cukup, termasuk kalori dan serta karbohidrat guna memenuhi kebutuhan energinya.

Seperti bayi dengan marasmus, masalah gizi buruk berupa kwashiorkor pada bayi juga membutuhkan pemberian susu formula F 75.

Namun, pemberian makanan harian biasanya akan sedikit berbeda karena si kecil sebaiknya mendapat makanan sumber kalori meliputi gula, karbohidrat, serta lemak.

Setelah itu, baru bayi boleh diberikan sumber makanan dengan kandungan protein yang tinggi guna mencukupi kebutuhannya yang kurang.

Begitu pula dengan penanganan kasus marasmus-kwashiorkor pada bayi yang bisa dilakukan dengan menggabungkan kedua pengobatan sebelumnya.

4. Masalah gizi lebih pada bayi

Masalah gizi lainnya yang juga bisa dialami bayi yaitu kelebihan gizi. Kelebihan gizi alias gizi lebih adalah kondisi saat berat badan berdasarkan tinggi badan si kecil berada di atas rentang normalnya.

Bayi dengan gizi lebih bisa memiliki salah satu dari dua kondisi, yaitu antara berat badan lebih (overweight) dan obesitas (obese).

Bayi dikatakan memiliki berat badan lebih saat pengukurannya berada di rentang 2 SD sampai 3 SD. Sementara untuk obesitas berbeda dengan gemuk biasa karena berada di atas pengukuran 3 SD.

Tindakan penanganannya

Cara terbaik untuk menangani masalah gizi lebih pada bayi yakni dengan mengatur asupan makanan dan minuman hariannya.

Sebisa mungkin, Anda perlu menjaga asupan makanan dan minuman harian si kecil agar berat badannya tidak semakin meningkat. Ganti selingan seperti roti yang manis dengan buah-buahan.

Anda tidak disarankan untuk mengurangi asupan kalori. Justru sebaiknya Anda tetap mengontrol jumlah kalori yang sesuai agar tidak berlebih.

Jika ternyata dokter menyarankan agar si kecil mengurangi asupan kalori harian, biasanya buah hati Anda akan mendapatkan anjuran menu khusus.

Hal ini bertujuan agar kebutuhan bayi tetap terpenuhi dengan baik dan tidak menyebabkan kekurangan zat gizi tertentu yang berisiko menghambat tumbuh kembangnya.

Baca Juga:

Share
x